Meraih Cita

Meraih Cita

Selasa, 26 April 2011

Paradigma Manajemen yang Manusiawi

Analisis News, Sabtu, 12 Maret 2011


Judul : Paradigma Baru Manajemen Indonesia, Menciptakan Nilai dengan Bertumpu pada Kebajikan dan Potensi Insani
Penulis : Frans Mardi Hartono
Penerbit : Mizan, Bandung
Terbit : November, 2009
Tebal : 599 Halaman


Relasi kerja dalam sebuah perusahaan biasanya selalu berkiblat ke Barat. Barat dianggap sebagai corong yang selalu “benar”. “Taklid buta” seperti ini seringkali mengalahkan rasionalitas dan kearifan lokal yang ada di Nusantara. Hal ini tampak jelas pada kegiatan produksi dan paradigma manajemen yang diterapkan.

Kegiatan produksi di masa lalu (yang berkiblat pada Barat) pada umumnya dijalankan dengan mengacu pada paradigma manajemen yang bertumpu pada manusia yang dipandang sebagai sumber daya. Kita tidak dapat mengingkari bahwa paradigma ini telah berhasil membawa banyak kemajuan bagi mereka yang menerapkannya. Tetapi selama 3-4 dekade terakhir ini orang mulai menyadari bahwa paradigma itu meninggalkan banyak pertanyaan dan persoalan yang bukan hanya perlu dicarikan solusinya secara filosofis, melainkan juga secara psikososial dan operasional.

Orang juga mulai melihat bahwa paradigma manajemen ini sudah tidak mampu lagi menjawab tantangan dunia kerja kontemporer. Jadi, paradigma ini sudah sepantasnya dikaji ulang secara saksama dan dipertimbangkan penggunaan paradigma manajemen yang lebih manusiawi dan bertumpu pada manusia yang bersumber daya.

Bagi Frans Mardi Hartono dalam buku Paradigma Baru Manajemen Indonesia, Menciptakan Nilai dengan Bertumpu pada Kebajikan dan Potensi Insani ini, konsep dasar dari model manusia yang bersumber daya sebenarnya sudah lama dikenal di Indonesia, seperti teruangkap dalam tridarma dalam hubungan kerja yang mengatakan bahwa di antara pekerja, pengusaha, dan pemerintah perlu ada rasa ikut memiliki (rumongso handarbeni), rasa ikut tanggung jawab untuk memelihara dan mempertahankan (melu hangrungkebi), dan berani terus-menerus mawas diri (mulat sariro hangroso wani).

Tridarma ini sudah jelas menetapkan bahwa kemajuan dan keberhasilan sistem usaha atau perusahaan bukan semata-mata menjadi tanggung jawab manajemen yang secara formal mewakili kepentingan para pemilik saham (hal. 357).

Dengan pemahaman baru ini, sudah saatnya pimpinan perusahaan tidak memandang pekerja sebagai buruh yang dibayar. Mereka sudah saatnya dipandang sebagai mitra kerja strategis. Sebagai mitra kerja, pekerja merupakan ujung tombak keberlangsungan usaha. Ketika ujung tombak dimanusiakan, maka akan timbul rasa cinta terhadap pekerjaan yang digeluti, sehingga hasil kerja dapat maksimal dan bernilai lebih.

Buku yang ditulis oleh Guru Besar Emeritus di bidang Manajemen ITB ini memaparkan suatu konsep manajemen yang sangat fundamental sekaligus sederhana karena karakter dan intelek yang dimiliki oleh setiap manusia dapat menciptakan nilai-nilai virtual perusahaan yang kuat dan tak mudah digoyang isu.

Dalam pandangan Heryanto Sutanto (Direktur Utama PT Matahari Kahuripan Indonesia Group, MAKIN, Jakarta) buku ini membantu pembaca untuk memahami bahwa manusia punya potensi sebagai makhluk cerdas, berhati nurani, dan jika bekerja dengan sepenuh hati akan menghasilkan pretasi yang luar biasa.

Pada akhirnya, buku ini memberi terobosan yang luar biasa dalam bidang manajemen di Indonesia. Hal ini karena penulisnya telah berhasil merumuskan sebuah paradigma baru yang lebih manusiawi dalam organisasi perusahaan, yang disebut sebagai konsep manusia yang bersumber daya.

Lebih lanjut, mengapa kita selalu berkiblat ke Barat jika di Nusantara telah menyediakan beragam tradisi dan kearifan yang lebih manusiawi? Selamat membaca.


*) Benni Setiawan, Pembaca buku, tinggal di Sukoharjo.

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar