Meraih Cita

Meraih Cita

Minggu, 23 September 2012

Kisah Kasih si Anak (N)akal



Oleh Benni Setiawan
Resensi Seputar Indonesia, Minggu, 02 September 2012


Anak nakal. Itulah cap yang senantiasa mengiringi anak berperilaku atraktif.Anak seperti ini senantiasa mendapatkan perlakuan minor dari orang tua dan masyarakat. Sering kali mereka juga dianggap sampah masyarakat dan tidak memiliki masa depan.


Masyarakat belum mampu menerima “potret” berbeda seperti ini.Padahal anak-anak yang kemudian dicap nakal sering kali mempunyai potensi tersembunyi yang luar biasa. Hal inilah yang dialami oleh Botchan. Botchan sejak kecil selalu membuat ulah. Hal-hal aneh selalu menjadi rutinitas hariannya.

Seperti berkelahi, bermain senjata tajam, dan merusak tanaman tetangga. Saking nakalnya Botchan,sang ayah sampai kewalahan menghadapi anak ini.Sang ayah pun senantiasa berujar bahwa ia tidak memiliki masa depan. Sang ayah pun mengacuhkan Botchan dan lebih memedulikan kakak Botchan. Kondisi seperti ini membuat Botchan semakin mengakukan dirinya.

Kasih Sayang

Untunglah Botchan memiliki Kiyo, perempuan tua yang bertugas menjadi pembantu di keluarnya. Kiyo hanya seorang perempuan tua tidak tamat sekolah dasar (SD).Namun,Kiyo mampu membaca keunggulan Botchan dan mengolahnya menjadi potensi yang mumpuni. Berkat Kiyo, yang senantiasa memberikan kasih sayang dan membesarkan hati,Botchan pun tumbuh menjadi anak hebat.

Kiyo pun selalu memperkenalkan cita-cita sekaligus imajinasi yang merangsang Botchan tumbuh dengan menatap masa depan cerah. Kiyo selalu berpesan kepada Botchan,kamu akan sukses kelak. Kiyo pun ingin selalu di dekat Botchan. Dengan suara lirih, ia berpesan agar nanti sekiranya Botchan sudah punya rumah memperkenankan Kiyo untuk tinggal bersamanya.Rumah impian Botchan pun tumbuh bersama harapan Kiyo. Botchan pun akhirnya lulus sekolah fisika.

Setelah lulus pada usia 23 tahun lebih empat bulan Botchan diminta untuk menjadi guru di daerah terpencil (Shikoku) dengan gaji 40 yen per bulan. Botchan pun akhirnya berangkat ke Shikoku setelah berpamitan dengan Kiyo. Perempuan tua itu pun melepas Botchan dengan mata yang berkaca-kaca. Berbekal warisan yang tidak banyak, Botchan pun akhirnya menjadi guru Matematika SMU di Shikoku.

Botchan tetaplah Botchan yang teguh pendirian dan apa adanya (tidak suka basa-basi). Botchan pun tampil beda.Ia tidak mau jadi penjilat seperti teman gurunya yang lain. Ia pun selalu berperilaku jujur dalam mengemban amanat menjadi seorang guru. Saat ia menjadi guru piket, banyak kejadian yang memuat ia marah.Pasalnya, aksi iseng siswanya. Saat ini Botchan ingin tidur di ruang penjaga sekolah.

Dalam keadaan gelap, tiba-tiba di dalam kelambu telah banyak belalang yang sengaja dimasukkan siswanya. Botchan pun memanggil dua orang siswa.Tanpa basa-basi ia menanyakan mengapa mereka iseng kepadanya.Namun,sang siswa tetap tenang dan tidak menampakkan wajah bersalah. Inilah yang membuat Botchan marah.Ia terkenang saat masih kecil. Ketika itu ia memang nakal.Namun, ia selalu jujur dan mengakui segala perbuatan yang telah ia lakukan. Botchan berprinsip,berani berbuat, maka harus berani bertanggung jawab.

Usia SD

Keberanian Botchan melawan sistem pun ia tunjukkan ketika guru senior memintanya untuk tidak mengajar karena cekung matanya menunjukkan kelelahan.Namun, dengan tegas ia menolak seruan itu. Botchan dengan lantang menjawab, “jika tidak mengajar cuma karena kurang tidur, saya akan mengembalikan sebagian gaji ke sekolah”. Sebuah sikap keatria dan penuh tanggung jawab yang Botchan warisi dari Kiyo.

Novel ini sungguh istimewa. Kisah kasih sayang antara Kiyo dan Botchan membelalakkan mata betapa kunci sukses seseorang bermula saat ia masih kanak-kanak. Saat umur anak usia sekolah dasar. Dengan kasih sayang,imajinasi,dan kepercayaan penuh anak akan tumbuh menjadi pribadi dewasa.

Hal tersebut sejalan dengan pendapat Romo Mangunwijaya. Romo Mangun, sebagaimana diungkapkan Mudji Sutrisno dalam pengantar buku Y Dedy Pradipto, Belajar Sejati Vs Kurikulum Nasional, Kontestasi Kekuasaan dalam Pendidikan Dasar (2007) menyatakan memperbaiki edukasi di Indonesia harus dimulai dari sekolah dasar.Sebab,yang harus dibenahi adalah persoalan mendasar, yakni alur jalan berpikir atau logikanya.

Novel ini pun mengajarkan kepada tenaga pendidik di Indonesia agar jujur dan menjalankan amanatnya dengan baik.Sebagaimana kisah Botchan. Iarela dipotong gaji jika tidak mengajar walaupun hanya satu hari. Novel yang menduduki posisi penting dalam sastra Jepang ini mengajarkan kepada siapa saja untuk senantiasa menebarkan kasih sayang, optimisme, dan imajinasi.

Dengan tiga hal itu, anak-anak akan tumbuh menjadi pribadi yang berbudaya dan berdaya saing. Mereka akan hidup dengan penuh tanggung jawab dan berprinsip.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar