Meraih Cita

Meraih Cita

Selasa, 26 April 2011

Gadis Sakura yang Memikat Sukarno

Analisis News, Senin 25 Maret 2011



Judul : Ratna Sari Dewi Sukarno, Sakura di Tengah Prahara
Penulis : M. Yuanda Zara
Penerbit : Ombak, Yogyakarta
Terbit : 2010
Tebal : xvi + 260 Halaman

Sukarno, Bapak Proklamator Republik Indonesia, memang unik. Dia tidak hanya dikenal sebagai pejuang republik, namun juga kekhasannya yang mampu memikat hati perempuan-perempuan cantik. Sukarno dikenal sebagai “lelanange jagat”. Dia ganteng, gagah, dan tulisan-tulisannya mampu membuat perempuan tersanjung dan “klepek-klepek”.

Salah satu perempuan yang klepek-klepek itu adalah Ratna Sari Dewi Sukarno. Tentunya nama tersebut bukan nama asli. Ia bernama Naoko Nemoto, seorang warna negara Jepang.

Ya, Naoko perempuan berparas ayu dan muda belia inilah yang jatuh cinta kepada Sukarno. Sebaliknya, Sukarno pun jatuh hati kepadanya.

Kisah kasih antara Sukarno dengan Naoko adalah titik kisar penting untuk memahami masuknya Naoko ke dalam kehidupan sang presiden. Haru-biru cinta mereka tidak seperti kasmaran anak muda yang selalu berpikir tentang dunia yang dimiliki berdua. Ini adalah episode bersambung yang kompleks, yang dipenuhi oleh traged, intrik, dan persoalan-persoalan yang menyangkut banyak orang, bahkan negara. Bisa dikatakan, jalannya sejarah Indonesia dipengaruhi oleh peristiwa klise ini.

Singkat cerita, menurut Naoko, ia bertemu pertama kali dengan Sukarno pada 16 Juni 1956 di Hotel Imperial Jepang. Naoko berkesempatan makan malam dengan orang nomor satu di Republik Indonesia.

Naoko berkisah, “sejak saat itu Bapak banyak menulis surat kepadaku. Bahasanya romantis, dan ia tak segan-segan mengungkapkan rasa cintanya yang beribu-ribu kali kepadaku. Dan pada akhir suratnya, ia selalu menulis: “I am constantly thinking of you. You know how I love you, 1000 kisses, Sukarno”.

Bahkan berdasarkan catatan hariannya yang belakangan dipublikasikan, Naoko menyebutkan bahwa ia sempat bertemu dua kali dengan Presiden Sukarno di Hotel Imperial Tokyo Jepang sebelum keberangkatan Sukarno ke Jakarta (hal 15-16).

Puncak dari hubungan ini, adalah ketika Sukarno bersikeras mengundang Naoko berkunjung ke Jakarta. Walaupun pada awalnya Naoko enggan namun akhirnya ia bersedia dan memenuhi undangan Sukarno.

Pasca-peristiwa itu, hubungan Sukarno-Naoko semakin dekat. Naoko sering diajak berkunjung oleh Sukarno. Pertama Sukarno memperkenalkannya sebagai seorang sekretaris. Namun, di lain kesempatan ia menyebut Naoko adalah istrinya. Walaupun pada saat itu hubungan mereka berdua belum sah suami istri.

Baru pada tanggal 3 Maret 1962 Sukarno-Naoko resmi menikah. upacara perkawinan berlangsung sederhana. Sukarno memberi mas kawin Rp.5,-. Adapun yang mengawinkan dua sejoli ini adalah Menteri Agama Saifuddin Zuhri.

Inilah kisah cinta Sukarno yang unik. Ia menikahi seorang geisha dari Negeri Sakura. Saking cintanya Sukarno kepada Naoko (yang kemudian dikenal dengan nama Dewi Sukarno), ia pernah menuliskan sebuah kalimat pemujaan sekaligus pengharapan untuk selalu hidup-mati bersama Dewi.

“Kalau aku mati, kuburkanlah aku di bawah pohon jang rindang. Aku mempunyai istri, jang aku tjintai dengan segenap djiwaku. Namanya, Ratna Sari Dewi. Kalau ia meninggal, kuburkanlah ia dalam kuburku. Aku menghendaki ia selalu bersama aku” (Djakarta, 6 Djuni 1962, Soekarno).

Sebuah tulisan puitis yang menyetuh kalbu. Sebuah penggambaran akan kecintaan Sukarno yang mendalam kepada gadis Sakura itu.

Buku ini bertutur tentang Ratna Sari Dewi Sukarno sebagai seorang istri Presiden RI pertama. Pengkisahan yang menarik dan tertata rapi menjadikan buku ini mempunyai nilai plus. Selain sebagai buku sejarah, buku ini juga beruajar tentang tokoh Dewi Sukarno sampai relung pribadinya.

Buku ini akan membantu siapa saja yang ingin mengetahui sejarah hidup Dewi Sukarno sebagai seorang istri Panglima Besar Revolusi (Sukarno) yang tak luput dari kekurangan sebagai seorang manusia biasa. Selamat membaca.


*)Benni Setiawan, pembaca buku, tinggal di Sukoharjo.

Mengikuti Jejak Paulus

Analisis News, Senin, 18 April 2011


Judul: In the Steps of Saint Paul
Penulis : Peter Walker
Penerbit : Kanisius, Yogyakarta
Terbit : 2010
Tebal : 215 Halaman

Beberapa pokok ajaran Paulus pernah menjadi sumber perbedaan dan perpecahan dalam Gereja Kristus. Namun, dalam proses kesejarahan, pencarian dan penemuan makna tidak akan berhenti begitu saja. Apalagi proses kesejarahan tersebut menguak tabir misterius sang penabur Sabda.

Buku-buku tentang Rasul Paulus yang sudah terbit sampai saat ini umumnya terasa “berat” dan sulit dicerna. Kita mengetahui bahwa Paulus banyak melalukan perjalanan penginjilan. Akan tetapi, banyak sekali pembaca awam yang kiranya masih bingung dengan urutan perjalanan-perjalanan Paulus tersebut, apalagi untuk menempatkan konteks sebuah suratnya berkaitan dengan perjalanan-perjalanan tersebut.

Pada titik itulah, buku In the Steps of Saint Paul ini akan memberikan pencerahan. Dengan gaya tulisan yang ringan, penulis buku ini mengantar kita ke 14 kota dan wilayah yang pernah dikunjungi Paulus. Sejarah kota dan wilayah yang bersangkutan, mengapa Paulus sampai ke sana, bagaimana dan dengan siapa dia ke sana, dan lain-lainnya, semuanya dikisahkan dengan menarik. Banyak rinciannya, namun disampaikan dengan menarik. Pembaca akan terus diundang untuk membaca dan melibatkan diri dengan perjalanan, karya, dan pribadi sang Rasul, mulai dari Damsyik sampai ke Roma.

Dalam merekonstruksi perjalanan-perjalanan Paulus ini, penulis terutama berpegang pada tuturan Lukas dalam Kisah Para Rasul yang dilengkapi dengan informasi dari surat-surat Paulus sendiri. Dalam bahasa Peter Walker, kita patut bersyukur karena Paulus sungguh-sungguh menuliskan sesuatu hitam di atas putih.

Dengan demikian, surat-surat paulus memberikan kepada kita kemungkinan untuk menatap ke dunia Paulus, dengan memberikan wawasan penting ke dalam jati diri dan tanggapannya yang mendetail terhadap aneka macam situasi. Kenyataanya, Paulus seringkali menulis dengan gaya yang amat pribadi, yang secara jelas memperlihatkan perasaannya. Hal ini berarti bahwa kita bisa mengenal Paulus lebih dekat dibandingkan dengan tokoh-tokoh lain dalam sejarah masa lalu (hal 16).

Penulis buku ini juga mengingatkan kita bahwa perjalanan-perjalanan Paulus sampai ke Roma adalah sebuah sub-plot dari sebuah kisah utama tentang perjalanan Injil dari Yerusalem “sampai ke ujung bumi”. Dengan demikian, kisah perjalanan Paulus merupakan kisah tentang hidup dan pergulatan jemaat-jemaat Kristen Perdana.

Buku karya Peter Walker ini merupakan sebuah usaha untuk mengikuti jejak Paulus sebagaimana dikisahkan dalam Kisah Para Rasul. Buku ini dilengkapi degan ilustrasi tentang hal-hal yang berkaitan dengan perjalanan Paulus. 14 tempat yang dikunjungi Paulus selama perjalanannya dibahas secara panjang lebar. Sejarah masing-masing tempat dari hulu sampai sekarang dikemukakan; data-data kunci disampaikan; foto dan peta disajikan. Melalui sajian-sajian seperti ini, pembaca diharapkan bisa sungguh-sungguh masuk dan mengalami sendiri perjalanan Paulus sang penabur Sabda.

Dengan demikian, mengikuti jejak Paulus berarti melakukan suatu perjalanan panjang menelusuri daerah-daerah sekitar Laut Tengah. Tidak seperti Yesus yang karya publiknya hanya meliputi suatu daerah yang berukuran tidak lebih dari 240 km, bersama Paulus kita akan memandang yang kalau dihitung titik paling jauh, yaitu antara Yerusalem dan Roma, mencakup sekitar 2.250 km dengan banyak tempat di antaranya. Jelas bahwa Paulus sendiri mempunyai kepekaan geografi; pada suatu ketika saat menulis surat kepada jemaat di Roma (Rom 15:19), ia menggambarkan karya pelayanannya diarahkan dalam bentuk kurva, “perjalanan keliling dari Yerusalem ke Ilirikum” (sekarang Albania). Oleh karena itu, dalam buku ini kita akan mengikuti “busur” itu, berjalan menyusuri pantai utara Laut Tengah dan mengikuti arah yang dijalani Paulus sendiri—dari Yerusalem menuju Roma.

Dan saat kita menelusuri perjalanan itu, apapun pandangan pribadi kita atas tokoh istimewa dari masa lalu ini, sulitlah bagi kita untuk tidak tergerakkan, paling tidak kepala kekaguman yang mungkin juga diwarnai rasa iri hati atas tokoh ini yang sudah mempersiapkan diri mengarungi sebuah perjalanan yang begitu panjang—entah dengan jalan kaki, naik perahu, mengendarai kuda, entah keledai—demi suatu alasan yang sungguh-sungguh diyakini sepenuh hati (hal 7).

Buku ini tidak saja berbicara mengenai perjalanan Paulus dan jati dirinya, namun juga menyingkap tabir misteri sejarah panjang penyebaran Kristen di masa awal. Buku ini layak dibaca oleh siapa pun yang ingin lebih mengenal secara dekat sosok Paulus. Lebih jauh, buku ini mewartakan dokumen sejarah yang langka lagi berharga yang patut disimak sebagai sebuah pemahaman atas keyakinan.

Pada akhirnya, dengan membaca buku ini mengutip Mgr. I Suharyo dalam catatannya, kita dapat merasakan sendiri “Betapa banyak penderitaan yang harus ia tanggung oleh karena nama-Ku”. Semoga pengalaman Sang Rasul Agung akhirnya juga sungguh-sungguh mengubah kehidupan kita secara total sebagaimana Paulus bersaksi, “Tetapi apa yang dahulu merupakan keuntungan bagiku, sekarang kuanggap rugi karena Kristus. Malahan segala sesuatu kuanggap rugi karena pengenalan akan Kristus Yesus, Tuhanku, lebih mulia daripada semuanya”. Selamat membaca.


*)Benni Setiawan, Pembaca buku, tinggal di Sukoharjo