oleh Benni Setiawan
"Resensi" Koran Sindo, Minggu, 10 Mei 2015
Judul : The Harmony of Humanity, Teori Baru Pergaulan Antarbangsa Berdasarkan Kesamaan Manusia
Penulis : Prof. Dr. Raghib as-Sirjani
Penerbit : Pustaka al-Kautsar, Jakarta
Cetakan : 2015
Tebal : xii + 784 halaman
Hai manusia, sesungguhnya Kami menciptakan kalian dari seorang laki-laki dan seorang perempuan dan menjadikan kalian berbangsa-bangsa dan bersuku-suku supaya kalian saling mengenal. Sesungguhnya orang yang paling mulia di antara kamu di sisi Allah ialah orang yang paling takwa di antara kamu. Sesungguhnya Allah Maha Mengetahui lagi Maha Mengenal (Q.S. al-Hujurat, 14: 13).
Ayat di atas menegaskan fitrah manusia sebagai makhluk sosial. Artinya, ia tidak dapat hidup sendiri. Ia membutuhkan orang lain. Manusia pun tidak dapat hidup tanpa keluarga sebagai tempat berlindung satu sama lain.
Kemaslahatan Bersama
Tampaknya potret keluarga inilah yang mendasari tesis The Harmony of Humanity. Dan jika menilik lebih jauh dalam sejarah panjang umat manusia. The Harmony of Humanity menjadi semacam pengungkit bahwa selayaknya manusia hidup damai dalam ragam perbedaan yang ada. Perbedaan bukan menjadi alasan untuk membenarkan konflik.
Sebaliknya, yang perlu terus disuarakan adalah kesamaan umat manusia menuju kemaslahatan bersama. Berbagai klan manusia dihadapkan pada dua pilihan cara untuk menggapai berbagai kepentingan, yaitu muslihat dan benturan atau pergaulan dan hidup bersama. Kita dapat melihat bahwa pergaulan selalu lebih baik, afdal , dan cocok dengan berbagai suku ”cerdas” itu, yang sangat sadar mengetahui bahwa maslahat yang ingin mereka wujudkan itu sebenarnya adalah maslahat bersama yang bersifat umum.
Ini bukan berarti bahwa pergaulan menjadi logika yang dominan, karena ada saja orang yang memenuhi kepentingan pribadi tanpa memedulikan kepentingan orang lain. Itulah sebabnya, benturan dan muslihat menjadi caranya untuk menggapai keinginannya (halaman 23). Buku karya Profesor Raghib as-Sirjani ini ingin mengukuhkan bahwa tak ada alasan bagi manusia untuk bermusuhan (konflik).
Pasalnya, manusia mempunyai banyak kesamaan sebagai modal membangun kerukunan dan perdamaian. Salah satu kesamaan itu adalah apa yang ia sebut sebagai kesamaan tertinggi. Kesamaan tertinggi adalah setiap manusia memiliki gambaran tertentu tentang Tuhan. Gambaran itulah yang menjadi keyakinan (akidah) yang kuat sehingga tidak mudah untuk dicabut selamanya.
Keyakinan inilah yang dapat menjadi tempat bernaung puluhan suku, ras, dan warna kulit. Namun seiring dengan itu, ia juga dapat menjadi penyebab konflik yang parah. Oleh sebab itu, yang harus dilakukan adalah jangan pernah mengusik keyakinan pihak lain (halaman 133).
Kesamaan Akal
Selain itu, manusia juga mempunyai kesamaan umum, dalam hal ini adalah kepemilikan akal. Kesamaan umum akal bertujuan agar berbagai suku bangsa dapat bertemu pada hal-hal yang rasional, bukan spiritual; pada dalildalil dan bukti-bukti kebenaran, bukan pada kesan pikiran atau perasaan ataupun hal-hal gaib. Di titik inilah akan terjadi koneksi dan pergaulan (halaman 138).
Dengan demikian, pelarangan penggunaan akal dalam kehidupan merupakan hal yang aneh. Pasalnya, larangan penggunaan akal menunjukkan cacat serta kesia-siaan pada kemanusiaan. Tidak diragukan lagi, hal itu akan menyeret ke arah peperangan dan konflik. Saat akal telah teroptimalkan dengan baik, maka ia akan menghasilkan ilmu pengetahuan.
Ilmu pengetahuan tentang kehidupan memiliki peran signifikan dalam perjalanan menentukan pertemuan peradaban antarbangsa meskipun jarak mereka relatif berjauhan. Ilmu pengetahuan pun mampu mewujudkan kepentingan- kepentingan kolektif agar setiap peradaban dapat maju dan berkembang dengan pengalaman peradaban lain (halaman 411).
Oleh karena itu, dialog besar haruslah dilakukan antarkaum intelektual dan cendekiawan di dunia ini untuk merumuskan perjanjian kehormatan yang membahas tentang komitmen-komitmen standar yang harus dipenuhi, dan wajib dijaga oleh ruang seni. Ruang seni merupakan wadah kesamaan umum. Maka itu, pelanggaran terhadapnya merupakan perlawanan terhadap karakter manusia dan hak naluriahnya.
Ditambah lagi dengan ruang kesamaan tertinggi, yang pelanggaran dan permusuhan terhadapnya sama artinya dengan permusuhan terhadap simbol kesucian agama yang tertanam mendalam dalam emosional umat. Sungguh, tidak seorang pun mendapat kebaikan jika seni dijadikan sebagai senjata perang (halaman 547).
Pembenar dan Tafsir
Lebih lanjut, tesis utama dalam karya ini adalah kesamaan umat manusia dan urgensitasnya merupakan dasar pemersatu umat manusia. Saat manusia mencari perbedaan, maka ia sedang menggali kuburnya sendiri. Pasalnya, manusia seakan mencari pembenar untuk melakukan permusuhan dan peperangan.
Namun, saat manusia mencari persamaan sesamanya, ia sedang membangun sebuah peradaban baru berdasarkan cinta kasih tanpa batas. Buku ini menjadi jawaban ilmiah atas beberapa tesis terdahulu, seperti The End of History ala Francis Fukuyama dan The Clash of Civilizations anggitan Samuel P Huntinton. The Harmony of Humanity membawa angin segar bagi terciptanya perdamaian dunia didasarkan pada kesamaan manusia bukan pada perbedaan.
Pada akhirnya, buku karya cendekiawan asal Mesir ini pun secara ilmiah menjadi pembenar dan ”tafsir” terhadap Quran Surat al-Hujurat (49:13) di atas. Semoga kehadiran buku ini menjadi pemantik bagi umat manusia untuk dapat hidup rukun dan damai dalam bingkai kesamaan dan kemaslahatan bersama.
Meraih Cita
Senin, 11 Mei 2015
Minggu, 19 April 2015
Menjadi Terdepan dan Terbesar
Oleh Benni Setiawan
Resensi Buku Koran Sindo, 19 April 2015
Hanya satu di antara tiga dari pekerja yang benar-benar bekerja. Mereka hadir, being present baik secara fisik, mental maupun intelektual.
Mereka terlibat secara penuh di dalam pekerjaannya. Dan, satu di antara lima orang yang digaji oleh perseroan, bekerja berseberangan dengan apa yang ingin dicapai perseroan.
Temuan Gallup Management itu menjadi bukti nyata, betapa tidak banyak pekerja yang mampu mengolah potensi menjadi kekuatan mengembangkan perseroan.
Mereka hanya sekadar menjadi pekerja dan penggembira di dalam sebuah perseroan. Ironisnya, realitas yang sering kita temui di dalam kehidupan kerja adalah sebagian besar perseroan tidak merumuskan business purpose dengan cermat. Sebagian besar deklarasinya hanya terkesan dibuat untuk memenuhi tuntutan formalitas, jika tidak mau dikatakan lips service .
Meningkatkan Kualitas
Masalah inilah yang menjadi fokus kerja Hendrik Lim dalam buku Happy Work, Happy Life. Mengintegrasikan Engagement ke dalam Strategi Bisnis untuk Menciptakan Terobosan Kinerja dan Kepuasan Kerja ini. Sebagai seorang praktisi bisnis entrepreneurship dan seorang yang pernah menduduki Presiden Director ia ingin membagi ilmu dan pengalaman guna meningkatkan kualitas perseroan melalui engagement. Mengapa engagement?
Hendrik Lim mendasarkan pada hasil penelitian yang menyatakan bahwa jika perseroan sanggup mengengage pekerjanya, maka ia akan tumbuh 2.5 kali lipat. Tidak hanya itu, jika perseroan tersebut, selaian engagement, juga melakukan upaya enablement, grow rate kinerjanya, bahkan bisa mencapai 4.5 kali lipat.
Di dalam dunia kerja engaged employee berarti seseorang yang penuh terlibat, senang, dan antusias atas apa yang ia kerjakan. Ia bersedia dan atas kemauannya sendiri (diskretif) melakukan berbagai hal-hal jauh di luar batas kewajiban standar formal semata untuk kepentingan dan kemajuan organisasi. Pemicu peningkatan kinerja organisasi dan daya saing perseroan telah berubah. Siapa pun yang ingin berlaga dan menang di dunia bisnis, wajib menyesuaikan strategi dan teknik pendekatannya dalam upaya mencapai sasaran-sasaran strategisnya tersebut.
Suasana Senang
Perseroan yang bisa merancang iklim yang fun, exciting dan menantang, akan membuat suasana kerja menjadi riang. Orang menjadi senang dalam bekerja, lebih banyak tersenyum dan punya hubungan industrial yang hangat. Dan di sinilah intinya, ketika kita merasa senang, maka kemampuan berpikir kreatif kita terbuka paling lebar. Ketika kita senang, kita menjadi amat kreatif.
Semua ide-ide akan mengalir dengan sendirinya. Ia seperti air terjun yang otomatis mengalir lancar. Namun, hal yang sebaliknya akan terjadi, jika suasana kerja itu monoton, membosankan apalagi suasananya tegang dan tidak tenang. Maka kemampuan berpikir kreatif kita akan tersumbat seperti sebuah saluran yang ”mampet”. Tidak ada hasil kreatif yang bisa mengalir keluar dalam suasana kerja seperti itu (halaman 18-19).
Pada prinsipnya, engagement bukanlah suatu event atau program tambahan. Ia tidak bisa ditempatkan sebagai suatu auxiliary program. Tetapi engagement haruslah embedded di dalam strategi dan kultur perseroan. Engagement harus menjadi suatu strategi leadership untuk menyukseskan strategi bisnis (halaman 92). Sebagian besar perseroan tidak memanen hasil transformasi karena ada diskrepensi di dalam konsep dan implementasi. Ada gap antara the way we think and feel terhadap the way we do. Di sinilah engagement menjadi semacam kunci menyesuaikan dan mencocokkan hal itu.
Alat Pendongkrak
Dengan engagement, perseroan akan punya leverage competitiveness yang makin hebat. Dengan demikian ia bisa sustain dalam alam kompetisi, apalagi kini dalam kompetisi pasar global yang makin terintegrasi. Tidak hanya sustain, tetapi juga surplus. Engagement memungkinkan setiap orang bisa mengeluarkan semua hal-hal terbaik, bakat, kemampuan, keahlian yang selama ini tersimpan dan menyalurkannya ke dalam kinerja.
Dengan pendekatan yang integral tersebut, engagement kini bukan lagi sebuah buzzword semata. Ia bisa menjadi alat pendongkrak market value perseroan yang amat hebat (halaman 306- 307). Buku ini seakan menyadarkan kepada kita betapa banyak perseroan yang belum mampu survive bukan karena ketiadaan modal. Namun, mereka belum mampu mengolah dan mengelola pekerja menjadi kekuatan.
Sebagaimana buku Hendrik Lim sebelumnya (Adaptif, Besar, Gesit, ABG, dan Business Owner Selling Spirit & Strategy, BOSS ), karya ini bukan sekadar mengelaborasi potensi. Namun, juga mendesain sebuah strategi dan metodologi agar sebuah perseroan mampu menciptakan sebuah lompatan besar dan menjadi yang terbesar dan terdepan.
Resensi Buku Koran Sindo, 19 April 2015
Hanya satu di antara tiga dari pekerja yang benar-benar bekerja. Mereka hadir, being present baik secara fisik, mental maupun intelektual.
Mereka terlibat secara penuh di dalam pekerjaannya. Dan, satu di antara lima orang yang digaji oleh perseroan, bekerja berseberangan dengan apa yang ingin dicapai perseroan.
Temuan Gallup Management itu menjadi bukti nyata, betapa tidak banyak pekerja yang mampu mengolah potensi menjadi kekuatan mengembangkan perseroan.
Mereka hanya sekadar menjadi pekerja dan penggembira di dalam sebuah perseroan. Ironisnya, realitas yang sering kita temui di dalam kehidupan kerja adalah sebagian besar perseroan tidak merumuskan business purpose dengan cermat. Sebagian besar deklarasinya hanya terkesan dibuat untuk memenuhi tuntutan formalitas, jika tidak mau dikatakan lips service .
Meningkatkan Kualitas
Masalah inilah yang menjadi fokus kerja Hendrik Lim dalam buku Happy Work, Happy Life. Mengintegrasikan Engagement ke dalam Strategi Bisnis untuk Menciptakan Terobosan Kinerja dan Kepuasan Kerja ini. Sebagai seorang praktisi bisnis entrepreneurship dan seorang yang pernah menduduki Presiden Director ia ingin membagi ilmu dan pengalaman guna meningkatkan kualitas perseroan melalui engagement. Mengapa engagement?
Hendrik Lim mendasarkan pada hasil penelitian yang menyatakan bahwa jika perseroan sanggup mengengage pekerjanya, maka ia akan tumbuh 2.5 kali lipat. Tidak hanya itu, jika perseroan tersebut, selaian engagement, juga melakukan upaya enablement, grow rate kinerjanya, bahkan bisa mencapai 4.5 kali lipat.
Di dalam dunia kerja engaged employee berarti seseorang yang penuh terlibat, senang, dan antusias atas apa yang ia kerjakan. Ia bersedia dan atas kemauannya sendiri (diskretif) melakukan berbagai hal-hal jauh di luar batas kewajiban standar formal semata untuk kepentingan dan kemajuan organisasi. Pemicu peningkatan kinerja organisasi dan daya saing perseroan telah berubah. Siapa pun yang ingin berlaga dan menang di dunia bisnis, wajib menyesuaikan strategi dan teknik pendekatannya dalam upaya mencapai sasaran-sasaran strategisnya tersebut.
Suasana Senang
Perseroan yang bisa merancang iklim yang fun, exciting dan menantang, akan membuat suasana kerja menjadi riang. Orang menjadi senang dalam bekerja, lebih banyak tersenyum dan punya hubungan industrial yang hangat. Dan di sinilah intinya, ketika kita merasa senang, maka kemampuan berpikir kreatif kita terbuka paling lebar. Ketika kita senang, kita menjadi amat kreatif.
Semua ide-ide akan mengalir dengan sendirinya. Ia seperti air terjun yang otomatis mengalir lancar. Namun, hal yang sebaliknya akan terjadi, jika suasana kerja itu monoton, membosankan apalagi suasananya tegang dan tidak tenang. Maka kemampuan berpikir kreatif kita akan tersumbat seperti sebuah saluran yang ”mampet”. Tidak ada hasil kreatif yang bisa mengalir keluar dalam suasana kerja seperti itu (halaman 18-19).
Pada prinsipnya, engagement bukanlah suatu event atau program tambahan. Ia tidak bisa ditempatkan sebagai suatu auxiliary program. Tetapi engagement haruslah embedded di dalam strategi dan kultur perseroan. Engagement harus menjadi suatu strategi leadership untuk menyukseskan strategi bisnis (halaman 92). Sebagian besar perseroan tidak memanen hasil transformasi karena ada diskrepensi di dalam konsep dan implementasi. Ada gap antara the way we think and feel terhadap the way we do. Di sinilah engagement menjadi semacam kunci menyesuaikan dan mencocokkan hal itu.
Alat Pendongkrak
Dengan engagement, perseroan akan punya leverage competitiveness yang makin hebat. Dengan demikian ia bisa sustain dalam alam kompetisi, apalagi kini dalam kompetisi pasar global yang makin terintegrasi. Tidak hanya sustain, tetapi juga surplus. Engagement memungkinkan setiap orang bisa mengeluarkan semua hal-hal terbaik, bakat, kemampuan, keahlian yang selama ini tersimpan dan menyalurkannya ke dalam kinerja.
Dengan pendekatan yang integral tersebut, engagement kini bukan lagi sebuah buzzword semata. Ia bisa menjadi alat pendongkrak market value perseroan yang amat hebat (halaman 306- 307). Buku ini seakan menyadarkan kepada kita betapa banyak perseroan yang belum mampu survive bukan karena ketiadaan modal. Namun, mereka belum mampu mengolah dan mengelola pekerja menjadi kekuatan.
Sebagaimana buku Hendrik Lim sebelumnya (Adaptif, Besar, Gesit, ABG, dan Business Owner Selling Spirit & Strategy, BOSS ), karya ini bukan sekadar mengelaborasi potensi. Namun, juga mendesain sebuah strategi dan metodologi agar sebuah perseroan mampu menciptakan sebuah lompatan besar dan menjadi yang terbesar dan terdepan.
Langganan:
Postingan (Atom)

