Meraih Cita
Minggu, 04 Desember 2011
Internet Mengganggu Otak?
Judul : The Shallows
Penulis : Nicholas Carr
Penerbit: Mizan, Bandung
Terbit : 2011
Tebal : xvi + 279 Halaman
"Pustaka", Kedaulatan Rakyat, Minggu, 04 Desember 2011
Internet merupakan media terbaru yang memicu perdebatan. Pertengkaran antara pendukung internet dan pencelanya, yang terjadi selama dua dekade terakhir melalui berbagai buku dan artikel serta ribuan tulisan blog, klip video, podcast, telah meluas seperti sebelumnya, di mana pihak pertama menyebutnya era emas baru akses dan partisipasi. Dan pihak kedua meratapi era kegelapan baru dari kesederhanaan dan narsisme. Perdebatan itu penting—isinya tidak masalah, namun karena berkisar sekitar ideologi dan selera pribadi, maka ia jalan buntu. Pandangannya menjadi ekstrem, serangannya bersifat pribadi.
Godaan teknologi sukar ditolak, dan pada abad informasi instan ini keuntungan kecepatan dan efisiensi bisa tampak murni, maka keinginan untuk menggunakannya tak lagi diperdebatkan.
Internet memberikan kemudahan dan kesenangan, tetapi juga mengorbankan kemampuan kita berpikir secara mendalam. Demikian ditunjukkan Nicholas Carr dalam buku The Shallows ini. Finalis Pulitzer Award 2011 ini menujukkan bagaimana “alat-alat berpikir”—alfabet, peta, barang cetakan, jam, hingga komputer—yang telah kita gunakan selama berabad-abad bisa mengubah cara kerja otak kita.
Buku ini menunjukkan dengan bukti bahwa internet memaksa kita menelan informasi secara instan, cepat, dan massal sehingga membuat pikiran kita mudah teralihkan. Kita menjadi terbiasa membaca cepat serbakilat dan cepat menyaring informasi, tapi akibatnya kita juga kehilangan kapasitas untuk berkonsentrasi, merenung, dan berpikir mendalam. Hal ini tentunya berbeda dengan membaca buku cetak. Kita diajak untuk focus memerhatikan setiap kata dan kalimat. Dengan demikian kita secara pelan dan pasti mendapatkan pemahaman yang holistik dan berpikir mendalam serta kreatif.
Pada akhirnya, mengutip ramalan Kubrikck, ketika kita mulai bergantung pada komputer untuk menjadi perantara pemahaman kita tentang dunia, kecerdasan kita sendirilah yang berubah menjadi kecerdasan buatan.
*)Benni Setiawan, Pembaca buku, tinggal di Sukoharjo.
Minggu, 27 November 2011
Menjadi Magnet Uang
Judul : How to Become a Money Magnet, Rahasia Menarik Uang dengan Mudah dan Cepat
Penulis : Marie-Claire Carlyle
Penerbit: Foresta, Jakarta
Terbit: I, April 2011
Tebal : 271 Halaman
Uang. Siapa tidak mengenalnya? Semua orang berlomba mencari dan mengumpulkannya. Baik dengan cara yang penuh kebaikan, kerja halal, maupun dengan cara-cara kotor, seperti korupsi dan memuja makhluk halus (babi ngepet, tuyul, dan seterusnya).
Benarlah kata Lynn Grabhorn. Uang, kata yang sangat berharga dalam bahasa mana pun yang menggunakannya. Namun, tahukah Anda bahwa sebenarnya uang dapat datang sendiri? Ya, uang dapat datang menyapa kita dengan senyum hangatnya. Tanpa harus berpeluh keringat. Buku How to Become a Money Magnet, Rahasia Menari Uang dengan Mudah dan Cepat ini membuktikannya.
Syaratnya sederhana, agar menjadi magnet uang, pikiran dan perasaan Anda harus sejalan, baik pikiran sadar maupun pikiran bawah sadar, dengan keyakinan bahwa Anda dapat dengan mudah menarik uang.
Ketimbang berfokus pada bagaimana menarik uang, misalnya dengan memenangkan lotre, lebih bijak untuk berfokus pada perasaan kaya dalam diri Anda. Lebih mudah jika mengizinkan uang mendekati diri Anda. Merasa kaya berarti memiliki harga diri yang tinggi dan tahu bahwa Anda layak atas kekayaan.
Pendek kata, menjadi magnet uang berarti mencari “kekayaan dari dalam diri” guna menarik “kekayaan dari luar” (hal 38). Dengan demikian, kunci kekayaan itu pada dasarnya ada di dalam diri kita sendiri. Karena Tuhan telah menganugerahkan potensi yang sangat luar biasa kepada manusia, sebagai makhluk berakal dan bernurani.
Guna meraih itu semua, buku ini menyarakan kepada kita untuk membiasakan diri untuk mencintai dan menghargai diri Anda; Menghargai apa yang Anda tawarkan sebagai pengganti uang; Menghormati uang dengan mengetahui berapa banyak uang milik Anda; Menghormati uang dengan membelanjakan uang secara bijaksana; Dapat membicarakan uang dengan mudah dan dengan cara yang pantas.
Tidur nyenyak di malam hari karena mengetahui bahwa Anda aman secara keuangan; Memiliki waktu untuk diri sendiri. Menyenangi apa yang Anda lakukan; Bahagia dalam sebagian besar waktu Anda; Berbagi kebahagiaan dengan orang lain; Selalu mengingat visi Anda; Mempunyai visi yang jelas tentang hasrat Anda di masa depan.
Setiap hari memperhatikan berbagai gambar yang membangkitkan semangat, baik di rumah mauun di kantor; Membuat tujuan yang jelas ketika ingin sesutau; Menjadi orang dermawan; Menerima pujian dengan mudah: Tiada kesemrawutan di rumah, kantor, dan di pikiran.
Sadar bahwa apa yang Anda pikirkan aan menarik hal tersebut ke Anda; Selalu berfokus atas apa yang Anda anggap penting; Selalu menindaklanjuti setiap inspirasi yang Anda terima; Penuh percaya diri; Selalu bersyukur; Tetap rileks untuk melepaskan dari genggaman kesemrawutan mental; Anda berlibur secara teratur.
Buku karya Marie-Clarire Carlyle, seorang pelatih potensi sejati ini membahas bagaimana uang merupakan refleksi dari nilai kita, baik dalam nilai diri kita maupun nilai yang kita berikan untuk orang lain.
Kini uang bukanlah akar segala kejahatan. Uang adalah jalur menuju kebaikan. Itulah yang diajarkan buku ini: menghasilkan uang demi kepentingan diri sendiri takkan membuat Anda bahagia. Menghasilkan uang agar dapat berbuat baik, nah itulah skenario yang menguntungkan.
Secara sadar maupun tidak, walaupun Marie-Clarie tidak mengutip langsung ayat-ayat dalam kitab suci, namun buku ini sesuai dengan teks dalam kitab suci. Buku ini mengajarkan kepada kita bahwa uang tidak akan berkembang dengan sendiri jika hanya kita simpan. Uang akan terus berkembang dan bertambah banyak jika didedikasikan di jalan yang benar dan baik dengan beramal.
Pada akhirnya, buku yang ditulis oleh pendiri Miracle Club ini akan membuat kita melek bahwa jika ingin memiki banyak uang, maka kita harus berpikir tentang uang dengan cara yang berbeda.
//TELAAH BUKU Majalah BAKTI edisi November 2011//
*)Benni Setiawan, Pembaca buku, tinggal di Sukoharjo.
Langganan:
Postingan (Atom)

