Meraih Cita

Meraih Cita

Minggu, 09 Oktober 2011

Kekuatan Memberi


"Buku", Bisnis Indonesia, 9 Oktober 2011

Judul : Why Good Things Happen to Good People
Penulis : Stephen Post dan Jill Neimark
Penerbit: Kaifa, Bandung
Terbit : Juli 2011
Tebal : 412 Halaman


Memberi adalah sebuah kata yang sederhana, tapi luar biasa dan serbaguna. Memberi memiliki arti yang hampir sama jumlahnya. Bahkan hanya dengan melihat sekilas kata tersebut di dalam kamus Webster, menunjukkan sebuah kolom definisi yang panjang—mulai dari “menghadiahkan”, “menawarkan”, hingga “menganugerahkan”, membaktikan”, “memercayakan”, “memperkenalkan”, “menyerahkan”, dan “peduli”.

Lebih lanjut, memberi akan memperbarui dan menjaga cinta sepanjang waktu. Cinta adalah obat yang paling mujarab. Dengan memberi kita menyingkirkan emosi-emosi negatif. Dalam kemurahan hati terdapat penyembuhan dan kesehatan.

Memperpanjang Umur
Memberi adalah kekuatan paling besar di dunia ini. Hal ini karena sebagaimana hasil penelitian dalam buku Why Good Things Happen to Good People ini, memberi pada saat duduk di SMA meramalkan kesehatan fisik dan mental yang baik hingga masa tua, untuk jangka waktu lebih dari lima puluh tahun.

Memberi sangat mengurangi tingkat kematian pada hari tua, bahkan jika Anda memulai belakangan. Memberi mengurangi depresi remaja dan resiko bunuh diri. Memberi lebih kuat daripada menerima dalam kemampuannya mengurangi tingkat kematian. Memberi membantu kita memaafkan diri sendiri atas kesalahan kita yang merupakan kunci perasaan sejahtera. Jika tidak memaafkan, Anda tidak akan berkembang. Dalam merelakan, ada kekuatan dan kebahagiaan. Dan pengampunan adalah sisi lain dari bersyukur.

Menolong teman, tetangga, saudara, dibarengi dengan memberikan dukungan emosional kepada pasangan hidup, mengurangi tingkat kematian walaupun tidak demikian halnya dengan menerima pertolongan yang sama. Bahkan tindakan berdoa untuk orang lain, seperti yang ditemukan oleh Neal Krause, mengurangi dampak berbahaya dari kesulitan kesehatan pada masa tua bagi mereka yang mendoakan. Memberikan dukungan lebih meningkatkan kesehatan daripada menerimanya.

Bukti Ilmiah
Buku ini berisi bukti ilmiah penelitian terakhir keajaiban memberi. Stephen Post dan Jill Neimark dengan ketekunannya selama 25 tahun meneliti bagaimana memberi telah mengubah kehidupan seseorang.

Presiden Institute for Research on Unlimited Love dan seorag penulis ilmiah yang telah dipublikasikan secara luas ini menemukan sepuluh cara memberi yang dapat Anda terapkan setiap hari dengan bersyukur, generativitas (menumbuhkan orang lain), memaafkan, keberanian, humor, respek, welas asih, setia, mendengarkan, dan kreatifitas. Buku ini juga berisi kisah-kisah inspiratif yang akan mampu menggerakkan dan mengubah kebiasaan yang akan mengantarkan seseorang memiliki jiwa pemberi.

Sebuah jiwa yang akan mengantarkan Anda pada kehidupan yang penuh kebahagiaan, rasa dicintai, rasa aman dan tenteram, dan kehangatan dari sebuah hubungan yang sejati.
Pada akhirnya, dengan memanfaatkan panduan pada setiap bab buku ini, Anda bisa menciptakan rencana khusus untuk mewujudkan kehidupan yang lebih murah hati dengan menggunakan gaya memberi yang paling sesuai bagi diri Anda. Buku ini akan membantu kehidupan Anda dengan penuh cinta kasih, umur panjang, hidup sehat, bahagia, dan sejahtera dengan satu kata, memberi.

Benni Setiawan, Alumnus Program Pascasarjana UIN Sunan Kalijaga, Yogyakarta

Sabtu, 08 Oktober 2011

Bersanding dengan al-Qur’an



Judul : Agar al-Qur’an Menjadi Teman
Penulis : Dr. Majdi al-Hilali
Penerbit: Zaman, Jakarta
Terbit : 2011
Tebal : 287 Halaman

Majalah MATAN, Edisi Oktober 2011

Muhammad Iqbal menyebut al-Qur’an lebih dari sekadar sebuah kitab. Jika ia merasuk ke dalam hati, manusia akan berubah menjadi lebih baik. Dan bila manusia berubah maka dunia pun berubah.
Buku Agar al-Qur’an Menjadi Teman ini bercerita tentang nilai-nilai al-Qur’an dan cara memetik manfaat darinya dalam upaya menjalin hubungan hakiki antara hati dan Kitab Suci tersebut, sehingga akan terjadi perbaikan pada setiap diri, lalu umat secara keseluruhan, seperti dicontohkan generasi sahabat Nabi.
Generasi telah membuktikan kepada dunia bahwa ia mampu memimpin peradaban dalam tempo yang singkat. Kunci sukses keberhasilan mereka adalah selalu hidup bersanding dengan al-Qur’an. Mereka memperlakukan al-Qur’an secara tepat. Hati mereka menyambutnya secara baik. Mereka pun menjadi generasi gemilang.
Jika al-Qur’an mampu melahirkan generasi awal yang gemilang, niscaya ia juga mampu melahirkan generasi baru yang akan mengentaskan umat ini dari krisis, lalu mengembalikan mereka ke puncak keagungan. Ini bukan mimpi, bukan pula khayalan, melainkan fakta yang telah terbukti dalam sejarah (hal 26).
Buku ini ditulis agar setiap hati bertautan dengan al-Qur’an. Dengan kata lain, menyilakan cahaya al-Qur’an masuk ke hati. Hal itu menuntut pendekatan yang tepat agar sesuai dengan bimbingan Allah dalam al-Qur’an, tuntutan Rasulullah dalam sunnah dan teladan para sahabat.
Penulis buku ini, Majdi al-Hilali, menegaskan bahwa jika membaca al-Qur’an tanpa pemahaman, perenungan, dan kepekaan, seseorang tidak akan dapat memetik mufakat secara sempurna—meskipun tetap mendapat pahala.
Al-Qur’an adalah ruh dan sumber tenaga hati. Siapa yang kehilangan al-Qur’an, ia kehilangan peluang besar untuk hidup secara hakiki, kehilangan kesempatan menikmati kebahagiaan, keridaan, dan surga dunia.
Al-Qur’an bukan lembaran-lembaran teori. Ia tidak akan mewujudkan dalam kenyataan jika kita tidak bersungguh-sungguh memetik manfaatnya.
Buku ini secara lugas mendedeh tema al-Qur’an yang dapat menjadi spirit kebangkitan. Melalui karya ini Majdi al-Hilali ini menyampaikan pesan bahwa masyarakat harus memulai kebangkitan diri dan bangsa dari al-Qur’an. Pemahaman dan pengamalan terhadap teks al-Qur’an menjadi kata kunci dan modal utamanya.
Pada akhirnya, mengutip sebuah Hadis, Nabi mengabarkan bahwa akan terjadi sengketa dan perpecahan sepeninggal beliau. Hudzaifah bertanya, “Ya Rasul, apa yang kau perintahkan padaku jika aku menututi zaman itu?” Beliau menjawab, “Pelajari kitab Allah dan amalkan, itulah solusinya!” “Kuulangi pertanyaan itu tiga kali,” tutur Hudzaifah, dan Rasulullah pun menjawabnya tiga kali pula; “Pelajari kitab Allah dan amalkan, itu penyelamatnya!” (HR Abu Dawud, al-Nasa’i, dan al-Hakim).

*)Benni Setiawan, Alumnus Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.