Meraih Cita

Meraih Cita

Minggu, 09 Juni 2013

Menyusuri Kisah Seorang Penulis

Oleh Benni Setiawan

Resensi, Kedaulatan Rakyat, 9 Juni 2013



Judul : Tidur Berbantal Koran. Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan
Penulis : N. Mursidi
Penerbit: Elex Media Komputindo, Jakarta
Cetakan : 2013
Tebal : xiv+ 246 Halaman


Penulis, bukanlah profesi pilihan utama di negeri ini. Negeri ini masih dipenuhi oleh generasi muda yang ingin menjadi pegawai negeri sipil (PNS). Bagi mereka PNS menjanjikan harapan besar bagi masa depan. Namun, ternyata masih ada anak muda yang gigih mewujudkan cita-cita menjadi penulis di tengah keterbatasan. Dia adalah N. Mursidi.

N. Mursidi dalam buku Tidur Berbantal Koran. Kisah Inspiratif Seorang Penjual Koran Menjadi Wartawan ini mengisahkan perjalanan hidupnya meraih cita menjadi seorang penulis. Melalui buku ini ia menyatakan bahwa kehidupan tidak boleh disesali apalagi ditangisi. Setiap jengkal kehidupan memiliki makna. Makna yang akan mengantarkan kita pada sebuah fase menikmati hasil jerih payah dan kerja keras kita selama ini.

Berbekal semangat, N. Mursidi bertekad merantau ke Kota Pelajar, Yogyakarta. Kuliah pertamanya pun gagal. Ia harus DO dari Universitas Sarjanawiyata Tamansiswa, karena ketiadaan biaya. Namun, berbekal semangat, akhirnya ia kembali menjejakkan kaki di kampus. Yaitu di Institute Agama Islam Negeri (IAIN, kini UIN) Sunan Kalijaga.

Di kampus barunya ini ia memulai berkarya. Usaha memasuki dunia tulis menulis diawali dengan kegemarannya memotret. Sebagai fotografer amatir ia memberanikan diri mengirimkan tulisannya. Tanpa dinanya, akhirnya potret itu dimuat di Harian Kedaulatan Rakyat.

Koran kebanggaan warga Yogyakarta ini pun menjadi “rumah pertama” untuk tulisan Nur Mursidi. Sebuah novel resensi yang ia baca selama semalam suntuk berbuah hasil. Resensi itu dimuat di Kedaulatan Rakyat Minggu dalam waktu dua minggu setelah pengiriman.

“Seketika itu, aku merasa kejatuhan durian runtuh. Minggu pagi itu, waktu berjualan Koran, aku merasa seperti menjual tulisanku sendiri. Setiap orang yang naik bus, kutawari koran Kedaulatan Rakyat dengan harapan karyaku akan dibaca banyak orang” (hal 114-115), kenangnya.

Sejak itu, tulisannya kerap menghiasai berbagai media massa. Nur Mursidi pun menjadi raja resensi. Hampir setiap minggu, resensinya selalu nangkring di halaman media massa.
Buku ini menggambarkan perjuangan Nur Mursidi menjadi seorang penulis. Penulis yang mengantarkannya menuju profesi wartawan yang kini ia tekuni.

Buku karya Nur Mursidi ini mengajarkan kepada kita, bahwa dengan kesulitan kita mampu merasakan kemudahan. Jika kita tidak pernah merasakan penderitaan, kita tidak akan pernah tahu bagaimana kebahagiaan itu. Sebuah karya yang sayang untuk dilewatkan.

*)Benni Setiawan, Pegiat Karangmalang C15 Universitas Negeri Yogyakarta (UNY).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar