Meraih Cita

Meraih Cita

Selasa, 07 Agustus 2012

Kritik Nalar ala Dawam



Koran Tempo, Minggu, 5 Agustus 2012

kebangkitan dunia Islam hanya dapat diraih melalui pencerahan nalar. Yaitu dengan memilih rasaionalisme sebagai pijakan berpikir dalam melihat segala sesuatu

Judul : Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam
Penulis : M. Dawam Rahardjo
Penerbit : Freedom Institute, Jakarta
Cetakan : April 2012
Tebal : xlii+ 390 Halaman

Bagi yang akrab dengan perkembangan pemikiran Islam kontemporer, judul buku Kritik Nalar Islamisme dan Kebangkitan Islam ini akan segera mengingatkan kita pada gagasan besar yang digarap oleh Mohammed Arkoun melalui proyek “kritik nalar Islam” dan Mohammed Abid al-Jabiri dengan “kritik Nalar Arab”. Namun demikian, tidak sebagaimana Arkoun dan Jabiri yang sejak awal berupaya menjelaskan apa yang dimaksud dengan istilah yang digunakannya tersebut secara ketat dan sophisticated, M. Dawam Rahardjo, penulis buku ini, cenderung “mengabaikan” masalah klarifikasi istilah ini.

Dengan banyak mengacu kepada Arkoun dan al-Jabiri, sangat jelas bahwa Dawam ingin ambil bagian dari proyek “kritik nalar” yang sudah dicanangkan oleh kedua pemikir garda depan tersebut. Dawam rupanya secara sengaja menjadikan proyek “kritik nalar” Arkoun dan al-Jabiri sebagai otoritas referensial atau kerangka acuan bagi proyek “kritik nalar Islamisme” yang dilakukannya. Karenanya, penjelasan tentang definisi tentang apa yang dimaksudkan dengan “kritik nalar”, ia tampaknya menyetujui dan mengambil begitu saja pengertian istilah tersebut dari Arkoun dan al-Jabiri. Adapun pemilihan kata “Islamisme” sepertinya dibuat secara berbeda dengan kata “Islam” dalam proyek “kritik nalar Islam” miliki Arkoun dan kata “Arab” dalam “kritik nalar Arab” milik al-Jabiri.

Bagi Dawam, gagasan mengenai ideologi Islamisme dari gerakan Islam sendiri mulai muncul pada belahan kedua dasawarsa 1930an. Tapi wacana itu berbentuk negatif, yaitu dalam melawan gagasan sekulerisme yang ditawarkan oleh Sukarno. Wacana ideologi pada waktu itu berbentuk kritik dan penentangan dan bukan gagasan kreatif. Ketika muncul gagasan untuk membentuk khilafah di dunia Islam di Timur Tengah, sikap gerakan Islam di Indonesia pun juga tidak jelas atau tidak ada.

Pada waktu itu, memang muncul dua komite khilafah. Yang satu dipimpin oleh H.O.S. Tjokroaminoto untuk menghadiri pertemuan di Kairo dan yang kedua ketuai oleh K.H. Wahab Hasbullah untuk pergi ke Jeddah. Tapi, kedua-duanya, menurut Gus Dur, bukan untuk menerima gagasan mendirikan Khilafah Islam, melainkan hanya berjanji untuk menghadiri undangan pertemuan. Gagasan yang jelas mengenai konsep negara dan sistem politik itu sendiri tidak jelas (hal. 41).

Dalam makna nalar kebangkitan Islam, Dawam menyebut dunia Islam dewasa ini ditandai oleh kebangkitan revivalisme. Di sini ada dua makna kebangkitan. Pertama, kebangkitan sebuah peradaban baru di masa modern. Kedua, menghidupkan kembali masa lampau, misalnya masa al-khulafa’ al-Rasyidin atau masa Salafi, yakni generasi awal ketika peradaban Islam yang baru tumbuh itu masih belum dipengaruhi oleh peradaban lain, khususnya Yunani.

Kebangkitan dalam arti pertama itulah yang dimaksud dalam kebangkitan Abad ke-14 Hijriyah. Tapi, kebangkitan ini tidak terjadi, paling tidak hanya parsial saja dan penuh dengan kegamangan. Sedangkan kebangkitan dalam arti kedua adalah revivalisme yang dikemukakan oleh John Naisbit dan Peter Berger yang tak lain adalah kebangkitan fundamentalisme agama yang sebenarnya terjadi juga pada agama-agama lain. Ini justru menimbulkan kerisauan, karena kebangkitan tersebut disertai dengan konflik, tindak kekerasan dan terorisme (hal 209-210).

Gagasan bernas Dawam tersebut seakan mengamini pendapat Mochtar Naim (2011). Mochtar Naim menulis dunia Islam sekarang telah memasuki era tamadun Gelombang Ketiga. Tujuh abad pertama adalah era tamadun Gelombang Pertama yaitu dari munculnya Islam di padang pasir Arabia pada abad VII Masehi ke puncak kegemilangannya di Baghdad dan Kordoba pada abad XIV. Lalu tiba masa menurunnya selama tujuh abad kedua, berupa era tamadun Gelombang Kedua yang dirundung kegelapan dan berada di bawah supremasi kekuasaan Barat. Kemudian Perang Dunia II sebagai titik nadirnya sekaligus awal dari era kebangkitan kembali tamadun Gelombang Ketiga.

Tamadun Gelombang Ketiga merupakan tantangan sekaligus peluang bagi umat Islam bangkit. Kebangkitan ini tentunya berawal dari sebuah kesadaran diri dan lingkungan (kesejarahan) bahwa umat Islam memeliki khasanah intelektual. Setidaknya hal ini dibuktikan dengan kejayaan Islam di era Abbasiyah.

Bagi Dawam, kebangkitan dunia Islam hanya dapat diraih melalui pencerahan nalar. Yaitu dengan memilih rasaionalisme sebagai pijakan berpikir dalam melihat segala sesuatu. Melalui rasionalisme ini, diharapkan agar Dunia Islam bisa mengembangkan ilmu pengetahuan secara sungguh-sungguh dan tidak terjebak dengan semata-mata mengembangkan ilmu-ilmu keagamaan yang pada dasarnya bersifat metafisik.

Tampaknya Dawam serius dengan proyek nalar islamismenya ini. Hal ini tampak pada setiap penjelasan yang dihadirkan berdasarkan permenungan mendalam dalam berbagai kajian keilmuan. Maka benarlah kata Moh Shofan dalam epilognya. Pikiran-pikiran Dawam dalam buku ini, boleh dibilang seperti elang yang merentangkan sayapnya menjelajah semua wilayah, yakni memotret semua disiplin keilmuan; budaya, politik, agama, ideologi, dan ekonomi.

*)Benni Setiawan, Alumnus Program Pascasarjana Universitas Islam Negeri (UIN) Sunan Kalijaga, Yogyakarta.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar